Monday, 28 April 2014

Biarlah Malam Menjelang, Tapi Genjotan Mu Semakin Kencang


Biarlah Malam Menjelang, Tapi Genjotan Mu Semakin Kencang - Bulan ini genap 4 tahun  Jogja Last Friday Ride. Gerakan pesepeda yang ada di Yogyakarta yang dilakukan setiap jumat malam pada minggu terakhir di tiap bulannya. Dengan mengambil start di Kridosono dan berakhir di Jl. Margo Utomo Tugu Jogja. Setiap rute di buat berbeda jalannya dengan berdasarkan situasi dan kondisi yang ada.

Tak kenal merk sepeda mu, tak kenal jenis sepedamu, tak kenal status mu, tak kenal umur mu, tak kenal jabatan pekerjaan mu dan tak kenal hartamu. Itu lah kiasan gerombolan pesepeda di Jogja. Sepeda itu tak berkasta dan bersepeda itu tak perlu berharta.

JLFR itu gila, segila idenya dan segila gerakannya. Tanpa mau di sebut sebagai komunitas dan lebih suka di sebut sebagai gerakan penggiat sepeda. Bisa disebut juga gerakan tak bertuan.

Maksud dan tujuan Jogja Last Friday Ride pun tidak jelas. Mereka hanya ingin merasakan bersepeda di jalanan layaknya lalu-lalang motor dan mobil di jalanan. Ya memang mereka tak bertuan. Tuan mereka adalah diri sendiri yang menginginkan bersepeda di jalanan. Bagi peggiat JLFR, mereka mewakili diri sendiri dengan segala kesantunannya di jalan raya.

Dari anak kecil yang di bonceng bapaknya hingga kakek-kakek pun ikut gerakan ini. Banyak anak-anak TK udah pada punya sepeda sendiri. Beda jauh dengan saya yang dulu mulai mengenal dan punya sepeda saat SMA. Tak heran bila penggiat sepeda sudah bagaikan jamur dimana-mana yang terus berkembang.

Bayangkan saja jika semua para peggiat pesepeda di Jogja turun ke jalan secara bersamaan. Jalan bebarengan dengan rute yang sama dan sejajar dengan motor dan mobil bahkan bus sekalian. Tentu ini bisa di bilang gerakan nDeso Cara Kutho.  Keringat melawan bensin.

Tak ayal, muncul berbagai keluhan dari pengguna jalan lainnya. Banyak cuitan  di sosmed mengenai keluhan macet yang dirasakan motor dan mobil/bus. Selayak cuitan  dan celotehan keluhan yang menandakan kegoisan tidak mau berjalan bersanding sepeda.

Tak hanya cuitan di twitter, fakta yang terjadi dilapangan ada juga munculnya makian yang di lontarkan. Pisuhan “Asu” dan “Bajingan” sering terdengar di jalanan. Bagi orang yang sering hidup di jalan, kata-kata pisuhan itu hal biasa dan panggilan mesra mereka. Akan tetapi di saat pisuhan itu terlontar di saat ada sebuah gerakan sepeda atau di saat kendaraannya di tersanding dengan sepeda maka itu bukan hal biasa lagi. Dan itu adalah makian.

Kalo makian di balas dengan pisuhan maka tak akan selesai. Maka jadilah pengendara motor dan mobil/bus yang tidak egois disaat bersanding dengan sepeda. Dan jadilah pesepeda yang santun dan tidak sombong, kesantunan kalian mewakili pribadi. Kearogannan pesepeda tidak mewakili JLFR.

Jaya raya 4 Tahun JLFR ..!! Ini genjotan ku den, kalo genjotan pit mu kepiye den ?

1 comment: