Friday, 18 July 2014

Ceritanya Bayu Hermawan “Melihat Tuyul”

#MelihatTuyul #CeritaHoror #GuyonanJawa #TuyulItuKamu

Cerita ini memang menarik. Saya sering baca cerita “Melihat Tuyul”. Mistis, tegang, ketawa, ngekek dewe dan cengar cengir. Sekilas ceritanya agak horor tapi itu gojekan jawa wong jaman mbiyen. Om Bayu memang jago kalo bwt nulis cerita fiksi. Saya sudah 4 kali baca tulisan ini. Pokokmen ceritane wangun.

Sebelum “Melihat Tuyul” ini di tulis, Bayu pernah menceritakan cara melihat tuyul ini ke saya saat jumat pagi. Saat ceritanya disampaikan ke saya sih kelihatan kurang seru, tapi semenjak cerita itu di tulis pada blog-nya, hasilnya bikin ngakak mesam mesem dewe.

Kurang afdol rasanya bila cerita “Melihat Tuyul” tidak saya bagikan ke semua. Ini candaan orang jawa jaman dulu. Cerita ini saya ambil dari blognya Om Bayu Hermawan ( bayu.web.id ) Sengaja tulisannya saya share di sini biar kalian bisa ikut baca.

Ceritanya Bayu Hermawan “Melihat Tuyul”
“Sampeyan tahu sendiri bagaimana enaknya gorengan ini”, Kata Pak Dab malam itu. Pak Dab lalu meninggalkan angkringan dengan membawa dua bungkus plastik berisi gorengan. Aku jadi sendiri di angkringan. pemilik angkringan sedang membuat gorengan. Tak lama berselang terdengar suara motor. Wono datang. Ia mengendarai motor kebanggaan. Motor pabrikan Jepang. Motor itu dibelinya tahun 1992, saat SMA kelas 2. Saat itu tabungannya Ia dudah untuk membeli motor itu. Ia membelinya dari Pak Kasio, seorang pengusaha kerbau yang doyan gonta-ganti motor.
“Motornya masih waras to kang? dari aku sekolah sampai sekarang ndak sekolah tetap aja motornya masih dipakai”, kataku.
“Lha iya masih to le, aku ini tresno sama motorku ini jadi aku rawat”, jawabnya sambil melepas helm.
Ia pun melepas jaketnya, lalu duduk disebelahku. Ia mengambil gorengan yang tinggal 5 biji karena sudah diborong Pak Dap tadi.
Bakule dimana le?”tanyanya Wono padaku.
“Anu mas, bikin gorengan bentar kok katanya” jawabku.
“Oalah aku ndak bisa pesan minum dulu nih, yowes tak mangan dulu kalau gitu”, Wono mengambil nasi bungkus lalu memakannya.
Wono badannya agak gemuk. Beratnya sekitar 65 kg dengan tinggi sekitar 155 kg. Di kampung dimana Ia tinggal, Ia dikenal sebagai MC alias pembawa acara. Biasanya Ia membawakan acara electone tunggal, dangdut, campursari atau ketoprak. Bukan acara formal. Ia terkenal dengan penampilan yang kocak. Suara nge-bass dipadu ekspresi yang menjiwai membuat penonton terpingkal terpingkal-pingkal.
MC bukan profesi utama. Profesi utamanya adalah juragan. Ia juragan kambing. Seusai kuliah Ia memilih usaha kambing. Tak mendaftar menjadi pegawai negeri atau swasta seperti teman-temannya. Alasannya, Ia ingin melestarikan tradisi turun menurun keluarganya yaitu peternak. Ayahnya pertenak sapi yang cukup sukses. Sapinya sekitar 100 ekor. Wono tak mau ikut ayahnya bertenak sapi, Ia memilih kambing. Di kampungnya mayoritas penduduknya peternak sapi. Menjadi antimainstream menjadi alasan Wono memilih bertenak kambing.
Di kampungnya Wono memang terkenal nyleneh. Kemana-kemana Ia memakai slayer merah. Mukanya agak mistik, juga bau badanya karena parfum yang Ia gunakan. Dengan slayer dipadu dengan motor bututnya menjadikan Ia dijuluki MC Butut Nyleneh.
Di kampungnya Ia tergolong Pria yang dipercaya. Selain karena tak pernah ada cacat korupsi atau masalah sejenisnya, catatan akademisnya cenderung bagus sehingga lebih dipercaya. Ia tak pernah lepas dari 3 besar ketika SMA. Di tempat Ia tinggal catatan akademis bagus membuat orang lebih dipercaya. Aneh memang, dengan ditangkapnya koruptor bercatatan akademis bagus seperti di Televisi.
“Heh, kamu mbok makan gorengan lagi, nanti aku bayarin wes” pinta Wono
“Waduh mas, aku sudah kenyang e”, jawabku.
Obrolan hening sekejap. Lalu tiba-tiba Ia nyeletup,
“Suasana tenang gini membuat aku jadi keingat jaman SD dulu, terutama saat ngerjain teman-teman”, kata Wono.
“Walah, apa to mas? Mbok diceritain”, sahutku.
Waktu SD Wono adalah sosok usil, lucu, juga setia kawan. Sore hari ketika matahari hendak tenggelam. Wono mengumpulkan empat temannya di halaman milik Pak Mon. Halaman Pak Mon menjadi markas buat mereka. Selain udaranya sejuk, juga terbilang rindang. Mereka bebas untuk menggunakan halaman itu. Sepak bola, petak umpet, hingga kasti. Sore itu angin sumilir berhembus.
“Oi kalian mau lihat tuyul?” tanya Wono.
Keempat temannya terheran.
“Gimana caranya Won”, tanya Zanu.
“Iya won, iyaaa gimana?” Kata Reno dan Risa mengikuti Zanu.
“Tapi aku takut” Kata Mojo.
“Mojo payah yaa badan gede tapi takut tuyul, wes sampeyan pake lipstik aja Jo!”, jawab Wono.
“Walah, aku takut jee”Jawab Mojo
“Jo, eling sampeyan itu cowok harus melindungi mosok gitu aja takut, hih!”, Wono mencoba memotivasi Mojo.
“Wah iya juga yaaa, kalau gitu aku harus berani!”, jawab Mojo.
“Nah gitu dong”, Kata Wono sambil tersenyum.
Wono mengajak mereka ke bawah pohon. Ia kemudian meminta teman-temannya untuk duduk di depannya. Ia menjelaskan syarat dan caranya. Lalu Wono meminta izin berfikir sejenak sekitar 5 menit.
“Nah!, Kalian nanti jam 10 malam datang ke rumahku, membawa kembang, gelas, cermin dan diyan yang sudah diisi minyak tanah. Pastikan diyan itu bisa nyala. Kembang bisa kalian ambil di rumah pamanku. Nanti aku yang akan meminta izin”, Perintah Wono dengan serius.
“Won, diyan itu apa ya?” tanya Zanu yang kebetulan pendatang.
“Diyan itu, botol minuman yang terbuat dari kaca, lalu kau isi minyak tanah. Tutupnya kau lobangi dikit, lalu kau masuki macam sumbu kompor. Nanti kalau disulut bisa nyala. Apinya keluar asap item alias angus. Kau tau kenapa bisa tetap menyala?”, Kata Risa.
“Karena minyak meresap melalui celah-celah, seperti pelajaran fisika kemarin”, Jawab Mojo
“Nah kau cerdas Mojo, tak rugi kau belajar” Jawab Risa.
“Yasudah, siapkan syarat-syaratnya nanti ketemu di rumahku”, kata Wono
Matahari sudah mulai ngantuk. Ia akan tenggelam untuk tidur. Anak-anak itu pergi ke rumah masing-masing. Wono mampir menemui Pamannya meminta izin agar teman-temannya bisa mengambil bunga di rumahnya. Pamannya membolehkan. Iya mengucapkan terima kasih lalu pamit pulang.
Di rumah, Wono menyiapkan media untuk ritualnya. Kebetulan rumahnya kosong, Bapak Ibunya sedang mengunjungi saudara di luar kota. Wono menyiapkan tikar dan wangi-wangian agar lebih mistik. Wangi-wangian itu Ia minta dari rumah kakeknya. Ia menata rapi media Itu. Lampu yang biasanya terang Ia ganti dengan lampu kamar yang agak gelap. Meja kecil dari kamar untuk tempat gelas Ia siapkan. Persiapan nampaknya sudah selesai, Wono pun mandi dan sembahyang.

Sambil menunggu teman-temannya datang Ia membaca buku. Nampaknya buku menjadi teman setianya. Setiap kali ada waktu luang dan kosong Ia selalu memanfaatkan untuk membaca.


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, Ia masuk kamar. Ganti baju, dari kaos putih menjadi kaos hitam. Ia memasang kumis-kumisan. Juga memakai ikat kepala berwarna hitam.
Sekitar setengah 10 temannya datang dengan membawa syarat yang diajukan. Mereka meminta untuk segera melihat Tuyul, namun Ia menolak lantaran syaratnya harus tepat pukul 10.00 malam tepat. Wono mengecek syarat-syarat yang diajukan ke teman-temannya dan nampaknya sudah lengkap.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Ia mengajak temannya ke ruangan yang sudah disiapkan. Lampu dimatikan. Wono meminta teman-temannya agar tidak berisik karena akan mengganggu upacara ini. Wono meminta untuk mengeluarkan syarat yang Ia ajukan. Kembang-kembang yang sudah dibawa dimintanya untuk dimasukkan ke gelas masing-masing. Lalu Ia mengambil korek dan meminta temannya untuk menyalakan Diyan yang mereka bawa. Lalu Ia meminta manaruh semua perseyaratan termasuk kaca di meja depan mereka duduk.
“Kalian sudah siap? Jawab yang kompak!” tanya Wono.
“Siap!” Jawab keempat orang itu”
“Baiklah, sekarang pejamkan mata kalian, jangan sampai ngintip karena aku akan membaca mantra, kalau sampai ngintip wudel kalian bisa hilang!” kata Wono.
Sembari mereka menutup matanya Wono mengambil gelas satu per satu milik temannya. Ia mendekatkan gelas-gelas itu dengan diyan yang sudah disiapkan agar hitam terkena angus. Empat Gelas yang semula cerah kini menjadi hitam karena angus.
“Ingat jangan ngintip, coba sentuh Wudel kalian, apa masih ada?!” kata Wono
“Masih Won” Jawab mereka sambil merinding karena bau parfum Wono.
“Bagus. Kalau begitu silakan tirukan aku baca mantra”, perintah Wono
“Siap Won”, jawab mereka dengan mata tetap terpejam.
“A, I, U, E, O”, Perintah Wono
“Ini mantra atau belajar baca Won?”, tanya Risa.
“Jangan banyak ta nya! nanti bisa gagal”, Jawab Wono
“Iyaaa. A, I, U, E, O” Ucap empat orang itu.
“T, U, Y, U, L, K, A, Y, A, K, K, A, M, U… ayo baca!”, Perintah Wono
“T, U, Y, U, L, K, A, Y, A, K, K, A, M, U”, Ucap mereka berempat.
“Sudah-sudah sekarang pegang gelasnya, gosok-gosok tangan kalian di situ. Gelas itu sudah mengandung mantra yang sudah kalian baca, lalu kalian usap-usapkan tanganmu ke muka sebanyak delapan kali. Gelasnya tepat di depanmu. Mata jangan sampai terbuka”, Perintah Wono.
“Siap Won!” ucap mereka.
Mereka mengusapkan tangannya ke gelas lalu mengusapnya ke muka.
“Baik sekarang pegang cermin yang ada di depan kalian, lalu taruh di depan mukamu dan buka matamu pelan-pelan”, perintah Wono.
Wono menyalakan lampu yang agak gelap. Dibukalah mata.
“Kampreettt, tuyulnya mukanya Item!” Ungkap Risa sambil menghindari cermin.
“Edyann, mukanya oreng-oreng hitam!”, Ungkap Zanu sambil menghindari cermin karena kaget.
“Iyaaa item mukanya”, kata Zanu kaget lalu menaruh cermin
Kemudian mereka menaruh cermin di depan mereka
“INI KAN MUKA KITA BUKAN TUYUUULLLLL, WOOOONOOOOOOOO….. TUYUL KAMU!!!!!” dengan kompak mereka bilang.
***
Di angkringan kami tertawa terbahak-bahak.
“Edan kowe mas, hahahhaaa” kataku sambil ketawa mengomentari cerita Wono. Bakul angkringanpun sampai batuk mendengar cerita Wono.
“Orang berprestasi baik macam Risa itu bisa dibohongi, jadi kau harus belajar, tak cukup di sekolah tapi juga harus mengasah kreatifitas” Kata Wono.
“Iya mas, bener juga!”, jawabku.
Handphone berantenaku sudah bunyi. Nampaknya telpon dari Ibu memintaku untuk pulang. Aku mengambil uang sepuluh ribuan lalu memberikan kepada penjual angkringan, jajanku hanya 8 ribu sehingga dikembalikan 2 ribu.
“Mas ceritamu gayeng, aku pulang dulu, lain kali cerita lagi yaaa”, Kataku
“Yo le, hati-hati”, jawab Wono
Kami pun berpisah.
****************************** END ******************************
Ckckckck . . . . Gimana mblo ceritanya ? Matur nuwun om Bayu Hermawan yang dah bikin tulisan cerita apik kui. Sangat sayang kalo tidak di share. Dan maaf bila tulisan itu aku copas, karena cerita mu itu bikin ngakak ngocok perut mulut ku.

0 comments:

Post a Comment