Tuesday, 16 September 2014

Me-madiun-kan Nasi Pecel Samping Kost

Saking banyaknya acara yang tidak jelas, update blog apritos|web|id pun jadi terhambat. Padahal sudah banyak cerita yang ada di otak. Maklum, ceritanya dalam beberapa hari ini lagi acara di Madiun dan acara kampung yang berentetan.

Hmmm. Jadi begitu singkatnya. Hingga saya tidak bisa ikut acara KBJ + Kompas tentang “menulis”. Yuk kembali lagi ke judul.

Untuk rentetan acara kampung, besok saja saya ceritakan. Karena acara kampung itu berhubungan dengan wewaler (kejadian aneh tapi nyata) di kampung saya. Kali ini saya ceritakan yang Madiun dulu.

Ceritanya itu, saya melakukan lelaku dari ke Madiun naik kereta Sri Tanjung. Dari Lempuyangan ke Madiun. Sampai di Madiun langsung monndar madir nyari kost. Kalo di kira-kira, panjangnya jalan mondar mandir nyari kost itu sepanjang jarak rumah saya ke malioboro. Jalan-jalan siang panas ngetang-ngetang. Aku ra popo.

Akhirnya dapat tuh kost di Candi Sewu. Dekat terminal madiun dan tidak ada tempat esek-eseknya (kan biasanya daerah dekat terminal cenderung esek-esek). Steril dan religius.

Rasanya harga kost dan kebutuhan sehari-hari di Madiun itu sama dengan di Jogja. Hampir mirip suasananya dengan Jogja. Tapi Madiun lebih panas dan pada makai air PDAM. Susah angkot.

Disini ini pengalaman saya pertama kalinya naik ojek. Ojek suzuki smash matic. Kok bisa smash matic, itu sebutan saya sendiri. Lha si pak ojek itu tidak pernah melakukan oper gigi transmisi. Matic-kan. Dengan saya berada di jok belakang seberat hampir 100kg, smash matic sering ngeden dan knalpot meraung-raung. Ngojek dari stasiun Madiun ke caruban PP 50 ribu.

Hal yang tidak terlewatkan bila berada di kota lain adalah jalan-jalan dan kuliner. Hehehe… Muter-muter alun-alun dan pasar tidak terlewatkan. Kalo dirasakan, di Madiun ini saya merasakan hawa jogja ketika saya masih SMP. Suasananya hampir mirip. Kemunduran bagi saya, tapi tidak mengapa.

Madiun identik dengan Nasi Pecel-nya. Serasa nasi pecel Madiun itu sudah menjadi sarapan wajib pagi hari. Sulit ditemukan di Madiun bila mencari sarapan selain nasi pecel. Nasi padang pun disini agak sulit mendapatkannya.

Nasi pecel, pencernaan sehat. Nah itu kira-kiranya efek pecel yang mayoritas sayuran semua. Bumbu kacang, kembang turi, kacang panjang, bayam, daun singkong, kecambah, di tambah kobis. Lauknya tempe/ bakwan goreng, peyek kedelei, srondeng. Maaf ya, saya tidak menyertakan fotonya.

Kata orang, pecel di samping kost saya itu enak. Saya pun sudah dua kali sarapan disana. Memang setiap pagi, pembeli pecel disitu rela antri lama demi mendapatkan sepincuk pecel. Rasanya memang berat kental bumbu kacangnya. Saya jadi tahu, rasa pecel Madiun yang katanya maknyuss itu. Kao keinget rasanya, sudah bukan pecel Madiun lagi, tapi menjadi me-Madiun-kan nasi pecel samping kost. Bingung, kata-katanya mbulet ya. Rasa pecelnya memang sulit di ungkap. Besok kalau saya sudah ada kamera, saya fotokan nasi pecel Madiun samping kost saya itu.

Nah itu dulu ya, saya keburu-buru persiapan naik kereta perjalan balik Jogja. Besok nyambung lagi.

5 comments:

  1. Ditempat saya Bantul pecel pakai kembang turi banyak dicari wasatawan mas, terutama pada hari Minggu pagi mereka pada datang jauh2 dari kota ke Bantul hanya untuk makan nasi pecel kembang turi. Memang kembang turi jarang ditemukan dipasar jadi barang langka sehingga banyak yang suka walau rasanya agak pahit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bantulnya di sbelah mana mas, mbok kapan2 saya tak mampir ksana

      Delete
  2. Terimaksih atas informasinya berkaitan dengan Me-madiun-kan Nasi Pecel Samping Kost
    Ditungu kunjungan baliknya

    ReplyDelete
  3. Terimaksih untuk informasinya berkaitan dengan Me-madiun-kan Nasi Pecel Samping Kost
    Ditungu kunjungan baliknya

    ReplyDelete
  4. Terimaksih atas informasinya mengenai Me-madiun-kan Nasi Pecel Samping Kost
    Ditungu kunjungan baliknya

    ReplyDelete