Tuesday, 14 July 2015

Cultural Trip Solo 2015 : Pertemanan Dalam Tabuhan Bedug Asyik

#CulturalTrip #Solo #BedugAsyik
Cultural Trip Bedug Asyik Solo 2015 | Pantangan bagi saya kalau menolak ajakan teman untuk jalan-jalan budaya. Waktu itu ada teman blogger yang mengajak untuk ikut acara Cultural Trip Solo 2015. Mas Jarwadi yang mengajak ke acara itu.

Bedug Asyik Solo 2015

Pertama di ajak ikut acara di Solo emang rada ragu-ragu untuk ikut. Lha gimana lagi, bulan Ramadhan lagi puasa malah di ajak jalan-jalan ke Solo. Akan tetapi, begitu liat sodoran itinerary, saya langsung katakan YES untuk ikut. Daftar acara Cultural Trip Bedug Asyik Solo 2015.

Banyak tempat menarik yang rencananya akan di kunjungi. Imajinasi saya akan acara ini sudah melunturkan derita jalan-jalan sehat siang hari saat bulan puasa. Seakan-akan semangat kyubi milik Naruto sudah menular ke saya untuk segera ke Solo. Bagaimana tidak tertarik, tempat tujuannya adalah Masjid Agung Solo dan Kampung industri gemelan di Mojolaban Sukoharjo.

Walaupun sebenarnya saya sudah sering ke Solo, akan tetapi kegiatan Cultural Trip Bedug Asyik Solo 2015 ini memberikan pengalaman budaya yang berbeda buat saya.

Sesuai undangan yang dikirim lewat email, Selasa jam 10.00 untuk kumpul di Rumah Turi Solo. Acara Cultural Trip Bedug Asyik Solo 2015 di mulai dari sini. Saat itu, saya dan mas Jarwadi berangkat dari Jogja naik kreta lokal Joglo Express. Naik kereta dari Stasiun Lempunyangan Jogja dan turun di Stasiun Purwosari Solo.

Nah, dari sinilah mulai jalan-jalan saya di Solo dan menuju ke meeting point di rumah Turi. Lumayan sulit memang untuk menemukan tempat meeting point ini. Untuk ketemu rumah Turi pun kami harus tanya beberapa orang dulu.

Bedug Asyik Solo 2015


Masjid Agung Solo - Ini tempat tujuan pertama kali. Pas rasanya berkunjung disini saat bulan ramadhan. Lumrahnya sebagai Masjid Gede Solo, suasana dalamnya pun hidup. Sama seperti di Masjid Gede Jogja, di Masjid Gede Solo pun banyak juga yang meramaikan suasananya. Orang tadarus, sholat dan tiduran menjadi pemandangan lumrah disana.

Gapura Masjid Agung Solo

Selain suasana masjid yang ramai, kondisi fisik masjid pun kelihatan masih terjaga. Masjid Agung Solo ini masih termasuk heritage. Beberapa dekorasinya pun masih terlihat orisinil. Saka guru, mimbar, kentongan dan bedugnya pun masih sama seperti jaman dulu.

Masjid Agung Solo

Sama dengan masjid jawa kuno yang lain, untuk menuju tempat wudhu di masjid ini harus melewati kolam air dulu. Bagi saya, tempat wudhu ini menjadi ciri khas masjid bernuansa jawa.

Sampai Masjid Gede Solo ini kebetulan pas habis adzan Dzuhur. Langsung ambil wudhu dan 4 rakaat dulu.

Kawasan Industri Pembuatan Gamelan Solo – Ini tempat favorit saya dalam acara ini. Desa Wirus Sukoharjo Solo. Banyak pengalaman tersirat yang ada di tempat pembuatan gamelan ini. Disini, kami ketemu dengan Pak Panggiyo si empu gamelan. Beliau merupakan adik Pak Supoyo yang juga menjadi empu gamelan juga.

Pak Panggiyo dengan coretan angka ukuran gamelan

Pak Panggiyo dan Pak Supoyo bisa dikatakan salah satu keluarga kakak beradik yang sampai saat ini masih menjadi pembuat seperangkat gamelan lengkap. Dan di kawasan itu, masih banyak juga ditemui pembuat gamelan seperti Pak Panggiyo.

Pak Panggiyo tidak hanya membuat gamelan Jawa saja, jenis gamelan Bali pun bisa beliau buat. Biasanya beliau membuat gamelan sesuai dengan pesanan, namun ada juga kalanya Pak Panggiyo membuat seperangkat gamelan lengkap. Gamelan pelog dan gamelan slendro. Dan sudah banyak pula seniman dalang yang pesan gamelan ke beliau ini.

Kebetulan saat rombongan kami kesana, Pak Panggiyo lagi membuat sebuah gong untuk gamelan Bali. Beruntungnya saya saat itu bisa melihat proses pembentukan bentuk gamelan. Di bakar lalu dibentuk dengan cara di pukul secara melingkar.



Akan tetapi saat itu saya juga belum beruntung belum bisa melihat Pak Panggiyo melaras gamelannya. Melaras gamelan itu menyetem suara gamelan. Sebenarnya saya ingin juga melihat cara nglaras gamelan.

Sesaat ngobrol dengan Pak Panggiyo, beliau bercerita kalau untuk memberi nama sebuah gamelan itu harus melalui sebuah tirakat. Biasanya tirakat ini dijalani dengan puasa pada saat pembuatan gamelannya. Katanya juga, tirakat ini untuk doa keselamatan dalam proses pembuatan gamelan tersebut.

Lomba Bedug Asyik – Acara bedug asyik ini menarik. Dalam acara ini diperlombakan seni menabuh bedug. Pesertanya berasal dari daerah sekitar Solo. Sepintas, kelihatan para peserta lomba bedug asyik 2015 ini memang bukan musisi/seniman, akan tetapi para peserta dapat menampilkan komposisi suara bedug yang cukup rampak.



Mungkin bila para peserta lomba itu lebih di latih lagi cara mukul bedugnya, bisa jadi akan bisa tampil dengan lebih bagus. Variasi pukulan bedug bisa lebih menarik. Lomba bedug ini di ikuti oleh enam group penabuh bedug. Sayangnya, diantara ke enam group itu belum ada yang bisa membuat saya mesem dan bilang “apik tenan nek iki”.

Sharing Session Dengan Joko S Gombloh – Workshop ini membahas tentang bedug. Sejarah bedug, perkembangan bedug, kegunaan bedug, dan kesenian menabuh bedug. Pak Joko Suranto Gombloh ini adalah pengamat seni & budaya. Dari sharing session inilah saya jadi tahu perkembangan sekilas sejarah bedug dari sejak jaman cina hingga sekarang.

Sharing session

Di Indonesia sendiri, jarang di temui seniman penabuh bedug profesional. Biasanya, para penabuh bedug tersebut merupakan kelompok masyarakat yang hanya suka bermain bedug di kampung. Dan itupun mereka hanya bermain bedug disaat ada acara saja.

Pak Joko S Gombloh ini juga seniman bedug lho. Disaat terakhir sharing session, beliau mengatakan bahwa group bedugnya akan tampil di panggung.

Kolaborasi Joko S Gombloh Dengan Peserta Lomba Bedug Asyik Solo 2015 – Penampilan kolaborasi ini menjadi obat capek setelah jalan-jalan seharian. Penampilannya mampu membuat ribuan penonton terpukau atas kesenian bedug ini. Penonton sempat diam senyap, mata tajam ke panggung sesaat menit pertama penampilan kolaborasi ini dimulai.

Perform Joko S Gombloh dengan para peserta lomba

Suara sinden di atas panggung terdengar semacam melantunkan syair daerah Kalimantan dan Bali. Rasanya, saya pernah dengar suara semacam sinden itu di acara ritual magis adat Bali. Secara spesifik, performa kolaborasi ini begitu keren. Tidak rugi saya merekamnya dalam sebuah gadget yang saya bawa.



Bagi saya, penampilan kolaborasi bedug ini layak untuk disebut sebagai puncak acara dari serangkaian Cultural Trip Solo. Kolaborasi ini menjadi penampil favorit saya.

Acara Hiburan Dangdut OM Renata | Band Repvblik | Band Tipe X – Ini hiburan penutup di malam hari. Bagi anak muda, hiburan ini yang paling ditunggu. Untuk menikmatinya harus bersyarat 18+ dan ini free ticket.

Tampak dalam pagar barikade depan panggung telah terpampang beberapa komunitas fans penggemar group band tersebut. Akan tetapi kok ada yang aneh ya, tidak seperti biasanya dalam sebuah konser gratis terbuka, di malam itu tidak ada bendera Slank dan OI berkibar.

Sayangnya, malam itu saya tidak sempat menikmati penampilan Tipe X di atas panggung. Tipe X naik panggung jam 23.30. Dan jam segitu, sudah jatahnya saya untuk perjalanan pulang ke Jogja. Padahal ini band kesukaan saya. Genre musiknya bisa membuat badan ingin rasanya berjingkrak.


Serangkaian acara Cultural Trip Bedug Asyik Solo 2015 memang maksimal. Top Markotop. Rasanya, capek saya dihilangkan oleh kesenangan acara ini. Senang bisa berpartisipasi dalam acara ini. Banyak pengalaman dan teman baru di acara ini.

Semangat kekompakan tabuhan bedug mengajarkan saya akan arti sebuah komunikasi pertemanan. Arti semangat pertemanan dalam Bedug Asyik Solo 2015 seakan-akan menjadi short message bagi saya.

Semangat pertemanan Bedug Asyik 2015 Solo

Tak terasa, tulisan ini begitu panjang, smoga aja cerita ini bisa mencatat pengalaman saya di Solo tempo hari.

Sampai ketemu di lain waktu lagi teman-teman Cultural Trip Bedug Asyik Solo 2015. Kalau ada kesempatan lagi, kita bisa ketemu di acara yang lain lagi. Terima kasih atas pengalaman sharingnya. Dan untuk Maverick, kalian memang luar biasa.

0 comments:

Post a Comment